SAR-BNPB TANAH DATAR official website | Members area : Register | Sign in
Yhohannes Neoldy. Diberdayakan oleh Blogger.

Waktu Berjalan

Hari Berganti

KUNJUNGAN

free counters

Total Tayangan Halaman

SAR MUDA TANAH DATAR MELAKUKAN PENDAKIAN GUNUNG MERAPI DIPIMPIN LANGSUNG Ny.MIKO ALTRI SUANDI

Rabu, 29 Juni 2011




Anggota  SAR muda Tanah Datar yang melakukan hiking ke gunung Merapi Minggu 26/6 lalu, menikmati langsung mekarnya bunga Edelweis pada hamparan berbatu menjelang mencapai puncak Merpati.
Sebanyak 20 anggota SAR muda binaan BPBD Tanah Datar tersebut, menempuh ruas jalan setapak dari wilayah Nagari Tuo Pariangan, tepatnya pada pinggang bukit di Jorong Padangpanjang., dipimpin ketua rombongan Ny.Miko Altri Suandi.

KARANG TARUNA NAGARI MALALO BEKERJA SAMA DENGA TIM SAR TANAH DATAR TANAM 1500 POHON DALU-DALU DAN POHON KELAPA DI PINGGIRAN DANAU SINGKARAK

Jumat, 24 Juni 2011

malalo
Karang Taruna Sabale Suku kenagarian Malalo laksanakan  penghijauan dan pembersihan pinggir Danau singkarak dengan penanaman kembali 1500 pohon dalu-dalu (tanaman khusus pinggir danau) dan pohon kelapa yang dipelopori oleh pemuda pemudi dari empat nagari yang ada di kecamatan Batipuh Selatan, diawali dengan penanaman pohon dalu-dalu oleh Wakil Bupati, Hendri Arnis,BS,BA di pinggiran danau komplek PLTA nagari Guguak Malalo Senen (20/6).

Water Rescue SAR Tanah Datar di Perairan Danau Singkarak

Selain berupaya mencapai tingkat kwantitas para anggota yang direncanakan sebanyak 100 orang, anggota SAR Kabupaten Tanah Datar juga tidak mengabaikan kwalitas personil yang akan diturunkan dalam menjalankan tugas sebagai relawan.
Saat ini anggota SAR Tanah Datar yang berada dibawah binaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) itu, telah memiliki kapasitas anggota sebanyak 50 orang personil, yang telah dipastikan mampu mengabdi dalam diturunkan ke tengah masyarakat sebagai tenaga relawan, baik pada era pra bencana, pasca bencana ataupun saat setelah musibah itu terjadi.

TIM GABUNGAN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM TANAH DATAR SUKSES DALAM PENYELENGGARAAN SIMILASI BENCANA GEMPA DI BATUSANGKAR

Monday, 20 June 2011 04:36
SIMULASI
Tim gabungan penanggulangan bencana kabupaten Tanah Datar evakuasi korban yang tertimpa pohon foto: Heri/Humas.
Tim gabungan penanggulangan bencana alam Kabupaten Tanah Datar mengadakan Simulasi Penanggulangan Bencana Gempa di Kota Batusangkar, sabtu (18/6 ) nkemaren.
Simulasi Bencana alam ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi bencana gempa yang menimpa, khususnya di wilayah Kabupaten Tanah Datar, mengingat Kabupaten Tanah Datar merupakan daerah  rawan bencana, khususnya gempa bumi.

BPBD Tanahdatar Latih Pemuda Nagari

Selasa, 10 Mei 2011

Tanahdatar - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanahdatar melatih sebanyak 200 pemuda nagari dalam penanggulangan bencana.

"Tujuan pelatihan pemberdayaan pemuda nagari tersebut untuk mempersiapkan dan membekali peserta dalam penanggulangan bencana di nagari masing-masing," ucap Kepala BPBD Tanahdatar Altri Suwandi saat upacara pembukaan pelatihan di Bumi Perkemahan Komplek Istano Basa Pagaruyung, Selasa (10/5).

Selain itu, tambah Altri, peserta juga diperkuat dengan ilmu pengetahuan tentang SAR sehingga pencegahan dan penanggulangan bencana dapat ditangani secara cepat dan tepat.

LAPORAN EVAKUASI LONGSOR Tim S A R Tanah Datar

Jumat, 06 Mei 2011


Gabungan Tim SAR Tanah Datar dan Tim dari Badan Penanggulang Bencana Daerah, (BPBD) Kabupaten Tanah Datar, Sabtu 30 April 2011, lalu melakukan evakuasi bencana tanah longsor yang menimbun badan jalan di lokasi jalan raya antara Batusangkar - Padang Panjang, yaitu tepatnya di Sungai Ungkang dan Simpang Balai Kamba.  Menurut salah seorang anggota Tim SAR, Juni, “Akibat longsor tersebut sebagian lalu lintas terpaksa dialihkan ke arah Sumpur, Batipuh Selatan sampai pekerjaan evakuasi selesai”.

Berita Duka Cita

Senin, 04 April 2011

Innalilahi Wa Inna Ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah, Bahim Yahya. S.Sos ( Sekretaris BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanah Datar pukul, 11.510 Wib siang tadi di RSU Batusangkar dan dikebumikan di Padang semoga almarhum mendapat tempat yang layak disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini. amiin

Operasi Lubuk Hitam - Batang Pamusian

Rabu, 09 Maret 2011

Laporan dari Nagari Pamusian Seorang Survivor, Nama: Adi Saputra, Agama: Islam, Suku: Melayu, Alamat: Kapalo Koto Halaban tenggelam dan hilang saat melakukan penyebrangan sungai Lubuk Hitam Batang Sinamar di Pamusian (Lintau Buo Utara) saat menjala ikan pada hari: Senin, 7 Maret 2011 pukul 16.00 wib. Saksi Mata adalah Ujang (Rekan) Survivor saat melakukan penyebrangan dan 2 orang lainnya Roni dan Kasriadi yang ikut dalam penjalaan ikan. Setelah menerima laporan dari Pihak Berwenang setempat, Team SAR Tanah Datar menuju ke TKP yang berjarak 2 jam berkendaraan dari Pusat Kota Batusangkar.


Setiba di Lokasi Team SAR Tanah Datar (Gabungan Anggota BPBD Tanah Datar) bergabung dengan Team Pencari dari Polres Tanah Datar dibantu oleh Masyarakat setempat melakukan penyisiran di pinggir sungai Batang Sinamar.


Pencarian kembali dilakukan pada hari Selasa, 8 Maret 2011 pukul 09.00 wib. Survivor (Adi) ditemukan pada pukul 10.45 wib dalam keadaan masih tenggelam di Lubuk Hitam dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Sulitnya medan evakuasi darat memaksa Team Pencari gabungan untuk melakukan proses evakuasi sorvivor melalui aliran Batang Sinamar dengan menggunakan pelampung dari Benen. Tepat pukul 11.45 dengan jarak 1,5 KM dari TKP, Sorvivor dinaikan ke mobil ambulans untuk di visum pada Puskemas Lintau Buo Utara I. Selesainya Visum oleh Medis di Puskesmas LBU I, sorvivor dibawa menuju rumah orang tua untuk selanjutnya dimakamkan. Dan pukul 12.40 wib Operasi Pencarian yang dipimpin oleh Kapolsek Lintau Buo Utara (Selaku SMC) dan Camat Lintau Buo Utara, Drs. Herison (Selaku OSC) ditutup.


Dalam hal ini, ucapan terima kasih dari keluarga Survivor kepada Team Pencari yang telah bersusah payah dalam melakukan tugas mulia ini. 

Lima Pendaki Gunung Singgalang tersasar

Selasa, 04 Januari 2011



laporan : Mustafa Akmal
Batusangkar,-----Lima orang pendaki Gunung Singgalang dari Mapala Ekuator Padang tersasar dari pendakian gunung Singgalang menuju Gunung Tandikat Pariaman sedangkan kondisi mereka sudah mulai terdeteksi yaitu berada dilembah danau kembang.
    Menurut keterangan yang berhasil dihimpun Koran ini kelima pendaki gunung singgalang yang berasal dari Mapala Ekuator tersebut masing masing bernama Puji,Tri, Beni, Agung dan Iman dan kelima pendaki gunung tersebut mendaki gunung singgalang pada hari jumat malam untuk menyambut tahun baru bersama sama teman pencipta alam lainnya.
    Dan mereka tersebut waktu mendaki Gunung singgalang sudah melaporkan keberangkatan mendaki Gunung singgalang melalui posko tim sar yang ada di Gunung Singgalang namun waktu pulang mereka tidak melapor dan juga teman temannya yang lain. Dan barulah pagi tadi ujar kepala Kesbangpol dan linmas Kabupaten Tanahdatar Drs Altri Suandi mereka mendapat informasi bahwa ternyata lima pendaki gunung dari mapala Ekuvator tersebut belum kembali, bahkan pihaknya juga sudah menerima laporan dari TIM Barnas Padang bahwa kelima pendaki gunung tersebut sedang berada disuatu tempat yaitu dilembah  Danau Kumbang namun dimana lokasinya pihaknya sudah mulai menurunka tim sar ke Gunung Singgalang


TIM SAR LATIH TEKNIK EVAKUASI PERSIAPAN PENANGGANAN BENCANA GUNUNG MERAPI

Sabtu, 25 Desember 2010




Laporan : Mustafa akmal-Batusangkar

Batusangkar,padek----Sebagai salah satu  Kabupaten yang termasuk daerah rawan bencana  di Sumatera Barat maka kesiapan pemerintah daerah dan Tim Sar sangat menentukan dalam mengatasi berbagai bencana dan jika terjadi bencana  maka  evakuasi akan  bisa dilakukan segera.
    Karena itulah terobosan yang dilakukan TIM SAR Kabupaten Tanahdatar ujar Wakil Bupati Tanahdatar Hendri Arnis kepada Koran ini kemaren merupakan momen yang sangat tepat dilakukan saat ini melakukan pelatihan pelatihan teknik Evakuasi korban bencana alam Gunung Merapi yang dilaksanakan ditebing dan jurang merapi di Nagari Koto Baru Kecamatan X Koto Kabupaten tanahdatar
        Walaupun kondisi gunung merapi kita menurut pengamat Gunung Merapi berada dalam Kondisi Normal, kondisi itu tentu tidak akan selamanya demikian,kemungkinan sewaktu waktu akan berubah pula dan kita tidak dapat melupakan peristiwa tahun 1979 terjadi Galodo di Pasir laweh Kecamatan Sungai tarab yang banyak menimbulkan korban,
      Kejadian itu malah terulang lagi pada tanggal 30 maret 2009 yang akibatnya akan menimbulkan korban jiwa, harta benda serta merusak  hasil hasil pembangunan yang telah dibangun dengan susah payah dan biaya yang tidak sedikit.
    Namun demikian dibalik kejadian kejadian tersebut Gunung Merapi mempnyai daya tarik tersendiri bagi pencinta alam  untuk mendakinya dan tidak jarang jumlah pendaki mencapai ribuan orang setiap tahunnya termasuk menyambut tahun baru besok,kita juga memproyeksikan jumlah pendaki gunung merapi akan terus bertamba walaupun sudah ada imbauan kepada generasi muda didaerah ini untuk tidak mendaki gunung merapi dan juga tidak tertutup kemungkinan  timbulnya permasalahan seperti pendaki yang hilang,tersesat dijalan dan kecelakaan.
    Demikian pula dengan meletusnya Gunung Merapi di Jawa tengah dan secara tidak langsung juga ikut mengejukan kita termasuk termasuk masyarakat kita yang berada dilereng gunung merapi sehingga kewaspadaan secara dinipun perlu kita tingkatkan.   
    Malah begitu seriusnya bencana yang terjadi didaerah Tanahdatar. maka Pemda tanahdatarpun telah membentuk Badan Nasional Penanggulangan bencana Alam (BNPB) Kabupaten Tanah datar melalui Perda Nomor 12 tahun 2010 sebagai tindak lanjut dari undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang  BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB ) untuk tingkat Nasional.
 Sehingga keberadaan SAR semakin terayomi sebagai mitra kerja BPBD bahkan untuk gempa dan Stunami kita juga telah mengirimkan delapan  orang utusan SAR ke Mentawai dan tiga orang utusan dan dua utusan dari SAR Tanahdatar sebagai bahan perbandingan bagi kita dalam rencana kontijensi untuk Gunung Merapi di Kabupaten Tanahdatar.
Karena itulah penyelamatan dan evakuasi bencana alam diberbagai daerah merupakan tugas pokok SAR. Sehingga perlu diasah kemampuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya guna meningkatkan kapasitasnya sebagai anggota SAR yang diandalkan untuk mendharmabaktikan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya bagi misi kemanusian.(mustafa akmal)

RIVER RESCUE


I. FILOSOFI RESCUE

Untuk menjadi seorang instruktur rescue yang berkompeten, maka ia harus selalu mengasah kemampuan/skill, mengembangan skill, teknik, dan perlengkapan.

Rescue terdiri dari berbagai jenis untuk medan yang berbeda, seperti: Swiftwater Rescue, High Rise Rescue, Cliff Rescue, Surf Rescue, Inflatable Rescue, Dive Rescue, Cave Rescue, dan lain-lain. Jenis – jenis rescue tersebut bisa saling melengkapi satu sama lain, misalnya pada saat rescue arung jeram dimana hanya ada tebing- tebing tinggi disekitarnya. Jadi hindari hanya menganut satu jenis rescue saja.

Yang harus diperhatikan pada rescue yaitu :
1. Usahakan menggunakan metode yang berisoka rendah, dengan alternatif metode yang lebih berisiko.
2. Semua personel harus mempersiapkan kemampuan dalam :
    a. Self Rescue
    b. Menolong orang lain
    c. Menolong korban

Ada 4 hal yang harus diperhatikan agar menjadi instruktur yang berkompeten, yaitu :
a. Training
b. Pratice
c. Eksperince
d. Judgement

Jangan hanya mengacu pada sertifikat dari training saja, tetapi juga harus diasah agar kemampuan meningkat, dan jangan lupa untuk selalu merekam atau melakukan pendataan selama proses tersebut.

Seorang trainee dapat berdiskusi dengan pelatih jika menemukan teknik – teknik baru yang lebih efektif.

Terdapat 4 kompenen dalam SAR :

1. Locate The Victim
    Proses pencarian korban dilokasi, diperlukan waktu relatif lama.

2. Access The Victim
    Proses mendekati atau mencapai korban setelah ditemukan, diperlukan waktu beberapa jam, misalnya harus melakukan discending atau ascending.

3. Stabilization
    Proses menstabilkan dan persiapan melepaskan korban. Kemampuan yang dibutuhkan adalah medis, peralatan, dan skill untuk memindahkan korban. Seorang medis bias hanya fokus pada pengobatan korban tanpa harus memiliki kemampuan rescue.

4. Transport
Proses membawa korban ke tempat yang aman , misalnya dengan teknik tyrolean menyeberang sungai.

Rescue yang sukses adalah merupakan hasil kerja team. Team bisa melibatkan / terdiri dari beberapa orang yang berkompeten di rescue spesialisasinya.

Dalam rescue terdapat 4 peran yang mengacu pada Incident Command System / Critical Incident Management yaitu :

1. The Leader / Incident Commander
    a. Tidak perlu harus memiliki kemampuan teknik rescue
    b. Menguasai Search & Rescue
    c. Seorang yang senior atau mempunyai kemampuan leaderships
    d. Bertanggung jawab untuk mengontrol semua proses rescue

2. The Rigger
    a. Orang operasional
    b. Bertanggung Jawab pada peralatan dan proses pemasangan system rescue dan system delivery

3. The Gofer
    a. Kadang disebut ‘logistic’
    b. Merupakan orang penting kedua setelah leader
    c. Bertanggung jawab pada beberapa hal seperti : pendataan, komunikasi, peralatan , SDM, press release, dan mengontak keluarga korban.

4. Rescuer
    a. Operasional rescue
    b. Rescuer bisa dibuat menjadi kelompok besar atau kelompok kecil dengan tugas yang berbeda
    c. Akan lebih baik jika dibekali dengan kemampuan medis.

Seorang rescuer juga harus dibekali kemampuan low to high rescue, agar memiliki pilihan pada saat dihadapkan pada kondisi tertentu misalnya kejadian di sungai atau banjir di kota.

Terdapat istilah dalam River Rescue, yaitu Reach, Throw, Row, Go, Tow, Hello

1. Reach
    Mencoba untuk meraih korban dari bawah / hilir
2. Throw
    Melemparkan pelampung, atau jika di sungai melemparkan throw bag.
3. Row
    Menggunakan perahu untuk menolong korban
4. Go and Tow
    Merescue dengan berenang mendekati / mencapai korban, sistem ini memiliki resiko lebih besar
5. Hello
    Menggunakan helikopter sebagai alat penunjang


II. 15 HAL MUTLAK DALAM RIVER RESCUE

1. Selalu Menggunakan Pelampung
    Seorang rescuer harus selalu menggunakan pelampung agar tidak terjadi hal-hal yang lebih fatal, sehingga diperlukan persiapan perlengkapan pada saat pre planning.

2. Selalu mengirim pengintai di hulu sungai bagian atas lokasi rescue, idealnya di kedua sisi sungai.
Mereka dibekali komunikator untuk memantau kondisi (mis : banjir), sehingga incident commander dapat mengantisipasi segala kemungkinan

3. Utamakan self rescue, berikutnya rescue dan keamanan rekan 1 tim, dan terakhir korban.
Training saja tidak cukup, tetapi juga harus dilatih dan menambah jam terbang.

4. Harus mempunyai plan kedua
    Seorang Leader harus dapat mempersiapkan SDM, pelengkapan untuk plan kedua sama baiknya dengan plan 1, sehingga jika plan 1 gagal, maka hanya dibutuhkan sedikit waktu untuk melaksanakan plan 2. Melakukan pendataan beberapa kelompok rescue lain yang memiliki kemampuan dan pelengkapan, agar dapat saling membantu sebelum kecelakaan.

5. Selalu memiliki beberapa cadangan rescue di bagian hilir.
    Misalnya menempatkan pelempar throw bag di beberapa tepi, perahu rescue, atau perenang handal.

6. Buat sesimple mungkin
    Cukup dengan skill yang simple, seperti mendayung dan memahami ‘ferry angle’ justru kadang lebih berfungsi pada kasus tertentu, tanpa harus tergantung dengan teknologi yang canggih.

7. Selalu menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan
    Ingat formula : training, practice, experience, dan good judgment, sehingga hanya perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan yang dibawa.

8. Saat di jeram, jangan selalu berpatokan kaki harus pada posisi ke hilir, terutama saat ingin ke pinggir / berenang. Manfaatkan fungsi eddy, usahakan berenang ke eddy atau pada saat memegang throw bag dan mengayun.

9. Jangan pernah mengharapkan korban untuk merescue dirinya sendiri.
    Pada saat kondisi panik korban akan sulit untuk diajak kerjasama. Siapkan absolut 5 dan bantu korban sampai tempat aman.

10. Jangan pernah mengikatkan tali pada rescuer
      Rescuer akan kurang leluasa, dan justru membahayakan, seperti terkunci atau terjebak.

11. Jangan memasang tali memotong atau menyeberang arus sungai
      Jika tali yag dipasang tegak lurus, rescuer akan kesulitan untuk mencapai korban karena justru akan membentuk V. Buat jalur diagonal, sehingga jika rescuer gagal maka ia akan terdorong ke pinggir.
Sistem pemasangan tali langsung memotong akan efektif jika dengan menggunakan perahu (boat system) / ‘high line evacuation’

12. Saat mengikatkan tali menyberang sungai, usahakan jangan berada di sisi dalam tali, tetapi berada di sisi luar

13. Saat korban berhasil dicapai, usahakan jangan dilepaskan
Sudah merupakan hal yang wajar dalam dunia medis. Dokter tidak dapat menolong korban sehingga meninggal dunia. Jika tim rescue tidak dapat membawa korban, maka gunakan absolut 10 dan 9 jika diperlukan.

14. Gunakan helm yang sesuai untuk proses penyelematan di lapangan

15. Bersikap Proaktif
      Jangan menunggu sampai terjadi musibah. Berikan pendidikan ke masyarakat, misalnya SAR, bahaya-bahaya. Persiapan tidak hanya pre-planning, tetapi jika lebih awal lagi justru akan semakin efektif.


III. DINAMIKA SUNGAI

Teknik pengukuran sungai dengan cara menghitung kapasitas sungai adalah : kedalaman rata-rata, lebar sungai, dan kecepatan arus.
Misalnya :
Kedalaman rata-rata : 2 meter
Lebar sungai : 30 meter
Kecepatan arus : 0.6 meter / detik

Kapasitas : 2 m x 30 m x 0.6 m/dtk = 36 meter kubik / detik

Pengukuran kecepatan sungai lebih sulit dibanding mengukur kedalaman dan lebar sungai. Metode pengukuran kecepatan sungai yaitu pada saat turun ke arah hilir sepanjang 30 meter, catat berapa waktu yang dibutuhkan. Kecepatan sungai ditentukan dengan menggunakan tabel dibawah ini :

Menghitung Kecepatan Arus

Waktu Pengarungan dalam detik Kecepatan ArusMeter / detik Kecepatan Km / jam
510151720232529375080110 6.13.12.01.81.51.31.21.10.80.60.40.3 21.910.97.46.45.54.84.43.92.92.51.51.0

Kecepatan arus tergantung pada kedalaman dan lebar. Sedangkan Kubik per detik cenderung konstan.

Kecepatan = kubik / detik
Lebar x dalam
Mis : Kecepatan = 36 = 1.2 meter / detik
15 m x 2 m

Kekuatan Air
Kekuatan air saat menghadapi suatu hambatan tidak berbanding lurus dengan kecepatan arus.
Misalnya : Kecepatan arus 1 m/detik menghasilkan tekanan sebesar 7.7 kg, tetapi jika kecepatan 2x lebih cepat, maka kekuatan akan meningkat sebesar 4x nya.

IV. TERMINOLOGI SUNGAI

DEFINISI

1- Hidraulik
2- Eddy
3- Eddy Fence
4- Hole, Stopper, Keeper (Hidraulik)
5- Haystack, Standing Wave
6- Frowning Hole
7- Smiling Hole
8- Downstream V’s
9- Upstream V
10- Strainer
11- Cushion, Stacked Water Cushion
12- Confluence


KATEGORI SWIFTWATER

Klas I Ombak kecil dan sedikit hambatan
Klas II Jeram mudah dengan ombak sekitar 1 m, tidak perlu scouting, jalur jelas, sedikit manuver
Klas III Jeram tinggi, ombak tidak teratur, manuver cukup kompleks, kadang diperlukan scouting, medan untuk rescue sulit
Klas IV Panjang, jeram sulit, perlu manuver di turbulance, perlu scouting, medan rescue sulit, bagi kayaker perlu kemampuan eskimo roll
Klas V Sangat sulit, panjang, jeram besar dengan rute yang rapat, harus discouting, rescue sulit, bahaya, perlu eskimo roll untuk kayaker
Klas VI Sangat berbahaya, hampir tidak mungkin untuk diarungi, hanya untuk kelas expert


ORIENTASI SUNGAI

River Right : sisi kanan sungai jika melihat ke arah hilir (dari atas)
River Left : sisi kiri sungai jika melihat ke arah hilir

IV. PERLENGKAPAN PRIBADI

PERLENGKAPAN PRIBADI

ü Sepatu
ü Helm
ü Pelampung
ü Wetsuit
ü Drysuit
ü Hoods
ü Sarung Tangan
ü Pisau
ü Peluit
ü Eye Protection

PERLENGKAPAN TIM

Jml Kebutuhan Keterangan
21306162021232 pasang14442 pasang1121 Tali rescue 60 meteran (11 mm atau 12.5 mm)Tali rescue 100 meteran (11 mm atau 12.5 mm)Locking D Carabiner50 mm pulleyO ring / steel rigging ring7mm prusikWebbing 4.5 m x 25mmRecucendersLine gunRescue boardsThrow bagChurchill fins / sepatu katakRescue life jacketPersonal flotationDrysuit / wetsuitHelm water rescueSwimming glovesRaft self bailing (3.5 m – 4.3 m)Oar frame / 7 dayungRadioMedical kit
(untuk kebutuhan anggota rescue 14 orang)

PERALATAN TEKNIS

1- Carabiner 8- Kooteney Carriage dan Knot Passing Pulleys
2- Screw Links 9- Edge dan Parapet Rollers
3- Steel Ring / O ring 10- Figure 8 Plate
4- Gibbs Type Ascenders 11- Brake Bar Racks
5- Rescucenders 12- Sticht Belay Plate
6- Handled Ascenders 13- Artificial Anchors
7- Pulleys

V KOMUNIKASI

Pada saat kondisi kecelakaan atau rescue, maka diperlukan manajemen yang baik, khususnya dalam hal komunikasi. Rescuer akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan efektif karena kondisi medan, misalnya kondisi kontur, saat hujan atau gangguan suara sungai. Salah satu metode yang efektif pada kondisi tersebut adalah :

Hand Signal

Ø Satu tangan lurus diatas kepala Distress, Butuh bantuan

Ø Dua tangan membentuk ‘O’ Oke
atau 1 tangan memegang kepala

Ø Dua tangan lurus diatas kepala sambil Gerak, renang, lanjut
digerakkan ke kiri / kanan

Ø Dua tangan lurus diatas kepala, lengan Eddy out
digerakkan ke kiri / kanan

Ø Dua lengan disilangkan dada Butuh medis dan pertolongan




Tiupan Peluit

1 tiupan Berhenti / perhatian
2 tiupan Upstream
3 tiupan Downstream
3 tiupan diulang-ulang Emergency


VI BERENANG OFENSIF ATAU AGRESIF

BASIC / DEFENSIF

Posisi badan kearah hilir dengan kaki sambil menginjak-injak, dan usahakan agar posisi tubuh dan kaki tetap selalu kearah hilir.

OFENSIF / AGRESIF

Cara berenang ofensif dengan dibantu backstroke kuat dan ferry angle yang baik dalam kondisi tertentu dirasakan kurang efektif. Sehingga diperlukan teknik berenang yang lebih agresif.

Cara berenang adalah dengan gaya bebas yang lebih kuat dan cepat. Beberapa situasi yang sesuai untuk berenang secara agresif, yaitu :
· Keluar masuk eddy
· Arus dalam dan deras
· Bergerak ke samping di ombak besar
· Mengejar korban
· Mendekati strainer
· Menggunakan river rescue board
· Meraih korban
· Menyeberang sungai

Konsep ferry angle harus diperhatikan pada saat swimmer hendak mencapai titik / tepi sungai tertentu dengan sudut kemiringan 45 derajat. Berenang agresif harus ditunjang dengan kemampuan dan peralatan yang menunjang, seperti penggunaan sepatu yang sesuai.

Perenang agresif memiliki resiko cidera pada paha, lutut, keram perut, dan dislokasi lengan.

VII FERRY ANGLE

Sama halnya dengan perahu, prinsip ferry angle juga dapat diterapkan untuk perenang, yaitu dengan posisi 45 derajat dari garis arus. Pengambilan arah sudut harus sesuai dengan kebutuhan atau sasaran yang akan dicapai, seperti korban atau eddys

(Di ambil dari celotehannya si Golis dari Jogja, bosnya Elo Rafting)

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN


I. UMUM
           
P3K merupakan sebuah pengetahuan dan keterampilan karena jika kita hanya mengetahui teorinya saja tanpa melakukan latihan atau praktek, maka mental kita tidak terlatih ketika kita benar-benar menghadapi kejadian sebenarnya. Sebaliknya jika kita langsung praktek tanpa membaca teori kemungkinan besar kita akan melakukan pertolongan yang salah pada korban
Sebagai seorang pecinta alam, materi ini penting untuk dipelajari, karena kondisi alam seringkali tidak dapat diduga dan sangat mungkin terjadi kecelakaan yang tidak kita harapkan. Sedangkan tenaga medis, sarana dan prasarana kesehatan sulit untuk dijangkau. Maka satu-satunya pilihan adalah mencoba melakukan pertolongan sementara pada korban kerumah sakit atau dokter terdekat.

II. MAKSUD, KEGUNAAN DAN TUJUAN P3K
v Maksud P3K adalah untuk memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan ditempat kejadian dengan cepat dan tepat sebelum tenaga medis datang atau sebelum korban dibawa kerumah sakit agar kejadian yang lebih buruk dapat dihindari.
v Kegunaan materi ini secara khusus adalah untuk membekali setiap anggota KMPA FISIP Unsoed agar dapat memberikan pertolongan pertama dilapangan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
v Tujuannya adalah mencegah maut dan mempertahankan hidup, mencegah penurunan kondisi badan atau cacat.

III. SIKAP, KEWAJIBAN DAN WILAYAH SEORANG PENOLONG
v     Sikap penolong :
1.      Tidak panic, bertindak cekatan, tenang tidak terpengaruh keluhan korban jangan menganggap enteng luka yang diderita korban.
2.      Melihat pernapasan korban jika perlu berikan pernapasan buatan.
3.      Hentikan pendarahan, terutama luka luar yang lebar.
4.      Perhatikan tanda-tanda shock.
5.      janganterburu-buru memindahkan korban, sebelum kita dapat menentukan jenis dan keparahan luka yang dialami korban.

v     Kewajiban Penolong :
1.      Perhatikan keadaan sekitar tempat kecelakaan
2.      Perhatikan keadaan penderita
3.      Merencanakan dalam hati cara-cara pertolongan yang akan dilakukan
4.      Jika korban meninggal beritahu polisi atau bawa korban kerumah sakit
5.       
v     Wilayah Penolong:
Pertolongan pertama pada kecelakaan sifatnya semantara. Artinya kita harus tetap membawa korban ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk pertolongan lebih lanjut dan memastikan korban mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.

IV.  TEKNIK DALAM P3K

A.     Prioritas dalam P3K
Urutan tindakan secara umum:
1.  Cari keterangan penyebab kecelakaan
2.  Amankan korban dari tempat berbahaya
3.  perhatikan keadaan umum korban; gangguan pernapasan, pendarahan dan kesadaran.
4.  segera lakukan pertolongan lebih lanjut dengan sarana yang tersedia.
5.  apabila korban sadar, langsung beritahu dan kenalkan.

Selain itu ada juga yang dinamakan prinsip life saving, artinya kita melakukan tindakan untuk menyelamatkan jiwa korban (gawat darurat) terlebih dahulu, baru kemudian setelah stabil disusul tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang lain. Gawat darurat adalah suatu kondisi dimana korban dalam keadaan terancam jiwanya, dan apabila tidak ditolong pada saat itu juga jiwanya tidak bisa terselamatkan.

B.     Pembalutan
Tujuan dari pembalutan adalah untuk mengurangi resiko kerusakan jaringan yang telah ada sehingga mencegah maut, menguangi rasa sakit, dan mencegah cacat serta infeksi.

Kegunaan pembalutan adalah:
1. menutup luka agar tidak terkena cahaya, debu, kotoran, dll.
2. melakukan tekanan
3. mengurangi atau mencegah pembengkakan
4. membatasi pergerakan
5. mengikatkan bidai.

Macam-macam pembalutan:
1. Pembalutan segitiga atau mitela
Pembalut segitiga dibuat dari kain putih yang tidak berkapur (mori), kelihatan tipis, lemas dan kuat. Bisa dibuat sendiri, dengan cara memotong lurus dari salah satu sudut suatu kain bujur sangkar yang panjang masing-masing sisinya 90 cm sehingga diperoleh 2 buah pembalut segitiga.



2. Pembalut Plester
Digunakan untuk merekatkan kain kassa, balutan penarik (patah tulang, sendi paha/ lutut meradang), fiksasi (tulang iga patah yang tidak menembus kulit), Beuton (alat untuk merekatkan kedua belah pinggir luka agar lekas tertutup).
3. Pembalut Pita Gulung.
4. Pembalut Cepat.
Pembalut ini siap pakai terdiri dari lapisan kassa steril, dan pembalut gulung.

Indikasi pembalutan:
Menghentikan pendarahan, melindungi bakteri/kuman pada luka, mengurang rasa nyeri.

Bentuk dan anggota tubuh yang dibalut:
1. Bundar, pada kepala.
2. Bulat panjang tapi lonjong, artinya kecil ke ujung, besar ke pangkal, pada lengan bawah dan betis
3. Bulat panjang hamper sama ujung dengan pangkalnya, pada leher, badan, lengan atas, jari tangan.
4. Tidak karuan bentuknya, pada persendian

C.     Pembidaian
Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan (fiksasi) tulang yang patah. Tujuannya, menghindari gerakan yang berlebihan pada tulang yang patah. Syarat pemasangan bidai:
1. Bidai harus melebihi dua persendian yang patah
2. Bidai harus terbuat dari bahan yang kuat, kaku dan pipih.
3. Bidai dibungkus agar empuk.
4. Ikatan tidak boleh terlalu kencang karena merusak jaringan tubuh tapi jangan kelonggaran.

Alat-alat bidai:
1. Papan, bamboo, dahan
2. Anggota badan sendiri
3. Karton, majalah, kain
4. Bantal, guling, selimut


D.    Pernafasan buatan
Sering disebut bantuan hidup dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru (RJP) intinya adalah melakukan oksigenasi darurat. Dilakukan pada kecelakaan:
1. Tersedak,
2. Tenggelam
3. Sengatan Listrik,
4. Penderita tak sadar,
5. Menghirup gas dan atau kurang oksigen,
6. serangan jantung usia muda, henti jantung primer tejadi.

Fase RJP:
A = Airway control (pengeuasaan jalan napas),
B = Breathing support (ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat)
C = Circulation (pengenalan ada tidaknya denyut nadi)
Untuk teknik RJP dapat dilihat pada lampiran gambar.

E.     Evakuasi dan Transportasi
Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban dari lokasi kecelakaan ke tempat lain yang lebih aman dengan cara-cara yang sederhana di lakukan di daerah-daerah yang sulit dijangkau dimulai setelah keadaan darurat. Penolong harus melakukan evakuasi dan perawatan darurat selama perjalanan.
Cara pengangkutan korban:
1. Pengangkutan tanpa menggunakan alat atau manual
Pada umumnya digunakan untuk memindahkan jarak pendek dan korban cedera ringan, dianjurkan pengangkatan korban maksimal 4 orang
2. Pengangkutan dengan alat (tandu)

Rangkaian pemindahan korban:
1. persiapan,
2. pengangkatan korban ke atas tandu,
3. pemberian selimut pada korban
4. Tata letak korban pada tandu disesuaikan dengan luka atau cedera.
Prinsip pengangkatan korban dengan tandu:
1. pengangkatan korban,
Harus secara efektif dan efisien dengan dua langkah pokok; gunakan alat tubuh (paha, bahu, panggul), dan beban serapat mungkin dengan tubuh korban.
2. Sikap mengangkat.
Usahakan dalam posisi rapi dan seimbang untuk menghindari cedera.
3. Posisi siap angkat dan jalan.
Biasanya posisi kaki korban berada di depan dan kepala lebih tingi dari kaki, kecuali;
-menaik, bila tungkai tidak cedera,
-menurun, bila tungkai luka atau hipotermia,
-mengangkut ke samping,
-memasukan ke ambulan kecuali dalam keadaan tertentu
-kaki lebih tinggi dalam keadaan shock.

TRANSPORTASI
Merupakan kegiatan pemindahan korban dari tempat darurat ke tempat yang fasilitas perawatannya lebih baik, seperti rumah sakit. Biasanya dilakukan bagi pasien/ korban cedera cukup parah sehingga harus dirujuk ke dokter.
Tata cara pemindahan korban:
a. Dasar melakukan pemindahan korban; aman, stabil, cepat, pengawasan korban, pelihara udara agar tetap segar.
b. Syarat pemindahan korban:
1. korban tentang keadaan umumnya cukup baik
2. tidak ada gangguan pernapasan
3. pendarahan sudah di atasi
4. luka sudah dibalut
5. patah tulang sudah dibidai
Sepanjang pelaksanaan pemindahan korban perlu dilakukan pemantauan dari korban tentang:
- Keadaan umum korban
- Sistem persyarafan (kesadaran)
- Sistem peredaran darah (denyut nadi dan tekanan darah)
- Sistem pernapasan
- Bagian yang mengalami cedera.
V. BEBERAPA KECELAKAAN DAN PERTOLONGANNYA
1.Pingsan
Yaitu korban tidak sadarkan diri tetapi nafasnya ada.
Macam-macam pingsan:
a. Pingsan karena sengatan matahari
Gejalanya: penghentian keringat yang tiba-tiba, korban lemah, sakit kepala, tidak dapat berjalan tegak, suhu tubuh 40-41ºC, pernapasan cepat dan tidak teratur.
Pertolongan: baringkan ditempat teduh dan banyak angin, komperes seluruh tubuh dengan air dingin, usahakan agar tidak mengigil dengan memijat kaki dan tangan, bila keadaan tidak membaik bawa kerumah sakit.
b. Pingsan karena kelelahan/ kelaparan
Gejalanya: Kedinginan dan berkeringat, lemah, pandangan berkunang-kunang, kesadaran menurun.
Pertolongan: baringkan ditempat datar, letakkan kepala lebih rendah dari kaki,buka baju bagian atas, dan kendurkan pakaian yang menekan. Bila muntah miringkan kepala, beri bau-bauan yang merangsang, setelah sadar beri minuman air gula.

2. Shock
Yaitu: peredaran darah terganggu karena kekurangan cairan sehingga mengakibatkan terganggunya alat tubuh.
Gejalanya: kesadaran menurun, denyut nadi cepat >140/menit dan semakin lama melambat bahkan hilang, penderita mual, kbadan dingin, lembab&pucat,napas tidak teratur, pandangan kosong,tidak bercahaya, pupil melebar.
Pertolongan: Baringkan kepala lebih rendah dari kaki kecuali gegar otak, tarik lidah penderita keluar, bersihkan hidung dan mulut dari sumbatan, selimuti, hentikan pendarahan bila ada patah tulang pasang bidai, bawa keRS
3. Keseleo
    Keadaan dimana persendian keluar dari sendinya, lalu kembali lagi.
    Pertolongannya:
     -Istirahatkan korban dengan letak keseleo ditnggikan
     -Boleh dikomperes air hangat dan urut hati-hati
     -Bila lutut dipasang kness dekker, lakukan pembalutan agar keras pada bagian lain
     -Bawa ke RS untuk memastikan apakah ada retak atau patah tulang
4. Patah tulang
Menurut kontaminasinya:
a.   patah tulang tertutup: ujung tulang tak berada di luar
 tanda-tanda: gerakan tak normal, tambahan     adanya bengkak, sakit bila digerak.
Pertolongan: usahakan tulang yang patah tidak bergerak dengan memasang bidai dan bawa keRS.
b. Patah tulang terbuka: ujung tulang berada di luar.
    Tanda-tanda: tulang mencuat keluar, menjadi kotor, pendarahan sulit dihentikan.
Pertolongan: mencuci luka dengan air bersih, tulang yang keluar dimasukan, tutup dengan kassa steril, gunakan anti septic, pasang perban elastic dan setelah selesai pasang bidai dan langsung transportasi.
Jenis patah tulang terbuka:
3.1. patah tulang belakang,
    Sulit ditentukan bila keliru akan fatal
Pertolongan: bila korban jatuh atau jatuh terduduk yang keras dan mengeluh sakit di punggung dan nyeri jika ditekan maka korban tidak boleh duduk, punggung harus tetap datar dan di transportasi dalam keadaan telentang dan di bidai.
3.2. Patah tulang panggul.
    Sulit menentukannya
Pertolongan: bila korban jatuh terduduk atau miring dan mengeluh nyeri dan sakit untuk duduk, maka langsung saja di transportasi dalam keadaan berbaring.
3.3. Patah tulang rusuk.
    Tanda-tanda: ada trauma, untuk bernapas dalam sakit, nyeri tekan napas tertahan.
Pertolongan: hati-hati jangan sampai mengangkat dengan menekan daerah dada karena bisa jadi patahan tulang rusuk menembus paru-paru ynag akan berakibat fatal. Dapat dibantu dengan pemasangan plester lebar dari punggung, memutar ke dada, secara perlahan langsung transportasi ke RS, korban dalam keadaan duduk atau berbaring asal bagian yang patah tidak tertekan.
3.4. Patah tulang kecil-kecil.
Pertolongan: untuk meta karpal dan jari-jari tangan, korban menggenggam bola karsa kemudian dibalut dengan elastic perban. Tetapi untuk metatarsalia dan jari-jari kaki cukup langsung dipasang perban elastic.
 5. Penyakit Penggunungan (Mountain Sickness)
Terjadi pada ketinggian 2000 mdpl reaksinya tergantung pada daya tahan tubuh orang yang bersangkutan:
a. Penyakit kegunungan yang akut.
Gejala: penderita measa pusing, sakit kepala, lelah, mengantuk, kedinginan, mual, dan muntah-muntah, pucat, sesak, gelisah, susah konsentrasi, susah tidur. Hal ini karena oksigen daam tubuh berkurang.
Pertolongan: Istirahatkan selama 24 s.d. 48 jam, bila tidak ada perubahan turunkan ke tempat yang lebih rendah.
b.      Penyakit pegunungan akut disertai kelainan paru-paru.
Terjadi pada ketinggian diatas 3000 mdpl, Gejala: munculnya 36 jam setelah tiba di tempat tersebut.
Tanda-tanda: batuk kering, bahkan batuk berdarah, seesak napas, dada terasa teretekan denyut nadi makin cepat, penderita pucat, membiru kemudian pingsan.
Pertolongan: baringkan dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya, berikan pernapasan buatan bila perlu, turunkan penderita ke tempat yang lebih rendah, bawa ke RS.
6. Luka bakar.
Luka disebabkan karena api, benda-benda panas, air panas, liran listrik, dan bahan kimia.
Derajat Luka Bakar:
Derajat I: hanya mengenai permukaan (epidermis), berupa warna kemerahan pada kulit, ada rasa nyeri, biasanya sembuh spontan dalam waktu 7-10 hari.
Derajat II: mengenai lapisan dermis, terjadi gelembung berisi cairan, terasa nyeri, dengan peralatan baik sembuh dalam waktu 10-14 hari.
Derajat IIB: mengenai dermis bagian dalam, gelembung-gelembung biasanya pecah, warna pucat, rasa nyeri, embuh lma dan menimbulkan bekas.
Derajat III: seluruh lapisan kulit rusak, sembuh lama dan menimbulkan cacat yang hebat.
Luka bakar harus melihat pada derajat kedalaman, permukaan, dan luas luka bakar tersebut. Bahaya luka bakar luas adalah kondisi dehidrasi yang mengancam jiwa penderita.
Pertolongan: Pertama, kita harus membebaskan tubuh penderita dari bahan penyebab. Daerah yang terbakar cukup cukup di rendam/ di siram dengan air dingin (jangan air es) karena akan menambah sakit. Luka bakar yang luas perlu segera mendapatkan tambahan cairan untuk mencegah dehidrasi, jika wilayah terbakar > 10% penderita harus dirawat di RS.
7. Tenggelam.
Pertolongan beri pernapasan buatan, raba denyut nadi leher, bila tidak teraba lakukan pijatan jantung dengan cara menekan atau memukul dada korban denga telapak tangan, melakukan sampai korban sadar, kosongkan air dalam perut dengan memiringkan kepala korban sedikit lebih rendah dari perut, kemudian letakan ke atas belakang hingga air keluar dari mulut.
8. Benda Asing yang Masuk Kedalam Tubuh
    a. Benda asing dihidung, misalnya pacet.
        Caranya:
- Letakkan segelas  air dingin didepan rongga agar pacet keluar atau meneteskan air tembakau kehidung
- Setelah pacet melepaskan gigitannya, tarik dengan pinset
     b. Benda asing ditelinga, misalnya serangga.
        Caranya:
        - teteskan beberapa tetes minyak tanah
        -Beri air hangat
9. Gigitan Binatang
    Binatang jika mengigit akan menimbulkan 3 masalah yaitu:
    a. Perlukaan cara mengatasi:
            - mencuci luka sampai bersih dengan air (steril).
            - Menghilangkan adanya benda asing
            - membuang jaringan yang mati
            - memberikan anti septic
            - menjahit luka.
    b. Infeksi cara mengatasi berikan anti serum.
c.   Keracunan,cara mengatasi:
            - tenangkan penderita agar tidak cepat menjalar,
            - baringkan penderita dengan posisi yang lebih rendah dari jantung
            - memberikan ikatan yang kuat di atas dan bawah tempat yang digigit
            - cuci sampai bersih
            - istirahatkan tempat yang digigit
            - menghindari manipulasi (pijit-pijit)
            - kirim ke RS
*   Contohnya:
a. Digigit ular
    racun ini bersifat merusak sel setelah 4 jam, racun akan menjalar keseluruh tubuh.
    Pertolongannya :
·    Pada Perlukaan
-     Memberikan tekanan pada sumber pendarahan
-     Mencuci luka sampai bersih dengan air steril
-     Menghilangkan benda asing pada luka
-     Membuang jaringan yang sudah mati
-     Memberikan antiseptic
-     Menjahit luka
-     Menutup luka dengan kasa steril
·    Bahaya infeksi
-     Sama dengan perlukaan
-     Berikan suntikan ATS
·    Pada keracunan
-     Baringkan penderita dengan posisi lebih rendah dari jantung
-     Usahakan penderita tetap tenang, agar tidak cepat menjalar
-     Memberi ikatan yang kuat atas dan bawah dari tempat yang digigit dengan 10cm, kendorkan setiap ¼ jam sekali selama ½ menit
-     Mengistirahatkan bagian yang digigit
-     Hindari manipulasi dengan pijit-pijit
-     Bawa kerumah sakit
b. Digigit pacet
    Ludah lintah atau pacet mengandung zat anti pembekuan darah, sehingga darah mengalir terus-menerus melalui beku luka yang menyebabkan gatal-gatal dan terjadi pembengkakan.
    Pertolongannya:
    Lepaskan pacet dengan membawa/meneteskan air tembakau ketubuh lintah, kemudian gosok bekas gigitan dengan salep anti gatal.
c. Digigit serangga
    Dapat menimbulkan pembengkakan, merah dan rasa sakit
    Pertolongannya:
    - Sengatan serangga diambil
    - Bekas gigitan digosok dengan salep anti gatal (reason)
    -beri obat penahan sakit (aspirin,antalgin,dsb)
10.Keracunan makanan.
Pertolongan:
-  usahakan penderita muntah dengan memekan langit-langit tenggorokan dengan jari melalui mulut.
-  Setelah muntah beri norit / arang ditumbuk halus
-  Bila perlu diberikan napas buatan.

V1. PENGENALAN OBAT-OBATAN


  OBAT LUAR                                      

  1. Rivanol
  2. Plester
  3. Betadine
  4. Minyak kayu putih
  5. Alkohol
  6. Tetes mata
  7. Bioplasenton
  8. Counterpain
  9. Kapas
  10. Pembalut
  11. Oxycan





















OBAT DALAM

  1. CTM
  2. Paracetamol/Antalgin
  3. Norit & Susu
  4. Promag
  5. Napacin
  6. Enterostop
  7. Feminax


Cara Tepat Beri Napas Buatan pada Korban Henti Jantung

Ketika ada orang tenggelam atau mengalami henti jantung tiba-tiba di tempat umum, Anda sebaiknya mampu memberikan bantuan pertama untuk menyelamatkan nyawanya, yaitu dengan napas bantuan dan kompresi dada. Bagaimana cara tepat untuk memberikan bantuan napas buatan dan kompresi dada? "Napas buatan dan kompresi dada adalah hal yang utama dilakukan untuk menyelamatkan nyawa orang yang mengalami henti jantung," jelas dr Agung Bintharto, Sp.An, spesialis anestesi FKUI/RSCM dalam acara Seminar 4th Emergency Fair and Festival 2010 di Auditorium FKUI, Jakarta, Sabtu (30/10/2010).

Pemberian napas buatan dan kompresi dada merupakan langkah-langkah utama melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD).

Bantuan Hidup Dasar adalah suatu usaha menjaga potensi jalan napas dan memberikan bantuan napas serta sikulasi darah, tanpa menggunakan alat bantu selain alat proteksi diri. BHD adalah dasar dari usaha untuk menyelamatkan nyawa bila terjadi henti jantung.

"59 sampai 65 persen kasus henti jantung dapat diselamatkan bila mendapatkan pertolongan BHD dengan cepat dan tepat," ungkap dr Agung.

Siapa yang memerlukan BHD?
Orang yang mengalami henti jantung, dengan ciri:
  1. Tidak sadar
  2. Napas berhenti atau tidak normal
  3. Tidak ada respons

Belum ada tanda kematian pasti, seperti:
  1. Kaku mayat
  2. Lebam mayat
  3. Pembusukan

Langkah-langkah BHD adalah sebagai berikut:
  1. Memastikan keamanan lingkungan tempat dilakukan BHD
  2. Memeriksa kesadaran
  3. Membuka jalan napas dengan mendongakkan kepala dan dagu
  4. Menilai pernapasan dengan memastikan korban bernapas normal atau tidak
  5. Panggil bantuan atau telepon ambulans
  6. Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan kompresi dada dan napas buatan

Cara tepat memberikan napas buatan
  1. Pencet hidung korban
  2. Penolong tarik napas normal
  3. Bibir penolong menutupi mulut korban dengan erat
  4. Tiupkan udara napas sampai dada korban bergerak terangkat
  5. 1 tiupan = 1 detik
  6. Biarkan dada korban mengempis spontan
  7. Ulangi langkah di atas bila korban belum menunjukkan respons apapun

Cara tepat melakukan kompresi dada
  1. Letakkan pangkal telapak tangan di pertengahan dada
  2. Letakkan tangan yang lain di atas punggung tangan yang satunya
  3. Kompresi atau tekan dada dengan laju kompresi minimal 100 kali per menit, kedalaman 5 cm dan kompresi konstan diselingi relaksasi.
  4. Jika mungkin, bergantian kompresi setiap 2 menit.

Cara menyelamatkan orang tenggelam

Karakteristik korban

Sering kita melihat di serial TV “Baywatch”, adegan seorang penjaga pantai menolong korban yang hampir tenggelam, ketika didekati si korban langsung diam dan terlihat tenang saat ditolong. Namun faktanya tidak demikian. Tidak semua korban akan tenang saat ditolong, bahkan sebagian besar korban akan tetap panik saat ditolong. Kepanikan korban tersebut dapat membahayakan penolong yang mencoba untuk mendekatinya.
Pengetahuan kita tentang karakteristik korban yang sedang tenggelam akan sangat menentukan teknik yang dipilih saat melakukan pertolongan. Tentunya disesuaikan dengan karakteristik korbannya.
Secara umum, korban yang sedang tenggelam di bagi menjadi 4 tipe :
1. Bukan seorang perenang (non swimmer)
Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik
  • Posisi badan terlihat tegak lurus dengan permukaan air (vertikal)
  • Gerakan kasar dan cenderung tidak berpola
  • Wajah terlihat sangat panik
  • Arah tatapan tidak jelas
  • Hanya fokus untuk mengambil napas
Saat ditolong
  • Mungkin akan berusaha untuk meraih penolong
  • Tidak dapat mengikuti perintah atau tidak dapat komunikasi
  • Selalu ingin dalam posisi vertikal, sehingga cenderung panik jika ditolong dalam keadaan horisontal
  • Selalu berusaha kepala dan dada berada di atas permukaan air
Yang di perhatikan penolong
  • Korban tipe ini sangat berbahaya bagi penolong
  • Sebisa mungkin hindari pertolongan dengan menggunakan teknik contact rescue /tow
.
2. Perenang yang cidera
Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik
  • Posisi badan mungkin terlihat agak aneh tergantung dari bagian tubuh yang cidera
  • Gerakan terbatas disebabkan oleh cidera
  • Wajah terlihat cemas, bahkan mungkin terlihat kesakitan
  • Bisa terjadi panik
Saat ditolong
  • Mungkin tidak merespon perintah karena lebih fokus terhadap rasa sakitnya
  • Berusaha mempertahankan posisi karena biasanya memegangi area yang cidera
IYang diperhatikan penolong
  • Kemungkinan akan membawa korban dalam posisi yang agak aneh (sesuai cideranya)
  • Perhatikan cidera yang dialami
.
3. Perenang yang kelelahan
Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik
  • Terlihat pola kayuhan yang lemah
  • Posisi badan biasanya membentuk sudut dengan permukaan air
  • Wajah memandang ke tepian atau perahu yang di dekatnya
  • kepala kadang tidak terlihat
  • dapat melambai untuk meminta bantuan
  • Wajah mungkin terlihat lelah atau cemas
Saat ditolong
  • Merespon perintah penolong dengan baik
  • Kooperatif saat ditawarkan bantuan
  • Bisa di topang dalam keadaan terlentang
Yang diperhatikan penolong
  • Dapat ditolong menggunakan teknik contact rescue
  • Lebih mudah untuk ditolong
.
4. Tidak sadar (pasif)
Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik
  • Terlihat tidak bergerak
  • Mungkin hanya terlihat sebagian punggung
  • Mungkin hanya terlihat puncak kepala saja
  • Wajah biasanya menghadap ke dasar
Saat ditolong
  • Tidak kooperatif
  • Mungkin akan cukup sulit untuk melakukan manuver terhadap tubuh korban
Yang diperhatikan penolong
  • Buoyancy korban sangat bervariasi
  • Membutuhkan pertolongan dengan teknik contact rescue
  • Perhatikan pernapasan korban, jika tidak bernapas lakukan sesegera mungkin bantuan napas
  • Penggunaan alat bantu apung (pelampung) akan sangat membantu dalam pemberian napas
  • Kadang terjadi keadaan yang disebut pasif – aktif, yaitu keadaan dimana korban terlihat pasif (tidak bergerak) namun saat di sentuh berubah menjadi aktif. Ini sangat membahayakan penolong. Oleh karena itu lakukan teknik mendekati korban dengan benar.
.
Selain karakteristik korban tadi, juga diperlukan kemampuan untuk memperkirakan buoyancy dari korban dengan melihat postur tubuh terutama saat melakukan contact tow. Korban yang gemuk cenderung akan mudah mengapung, namun akan lebih berat saat menariknya ke tepi. Sebaliknya korban yang kurus cenderung akan mudah tenggelam, namun akan lebih ringan saat menariknya ke tepi.

Album Anggota SAR-BPBD Tanah Datar

Kegiatan SAR - BPBD Tanah Datar